Resensi Buku Athirah - Sebuah Novel



Kesetiaan seorang Perempuan

Judul : Athirah - Sebuah Novel
Pengarang: Albertheine Endah
Penerbit: Noura Books, 2016
Tebal: 383 halaman

Tidak hanya piawai menulis biografi tokoh-tokoh besar, Alberthiene Endah rupanya juga terampil menulis novel. Hebatnya, novel yang disajikan oleh sang penulis tersebut adalah novel biografi. Sebagai sebuah karya, novel berlatarbelakang kisah nyata memiliki gaya tersendiri. Karya tersebut menjadi sangat menarik untuk dibaca. Kita seperti membaca sebuah riwayat hidup yang dibacakan dengan gaya bahasa yang tidak begitu kaku.

Setidaknya kesan itulah yang terdapat dalam novel berdasar kisah nyata yang berjudul Athirah. Novel ini menghadirkan sosok ibu bernama Athirah yang berjiwa lembut, cerdas, setia dan penuh semangat. Kehadiran sosok ibu tersebut dilengkapi dengan sosok-sosok lain yakni suami dan putra putrinya.

Halaman demi halaman buku ini mengisahkan sosok sang ibu yang begitu luar biasa dalam menjalani kehidupannya. Kisah pernikahan Athirah muda dengan sang suami yang awalnya mengalir indah,rupanya harus terganggu dengan pilihan hidup sang suami yang memutuskan menikah lagi. Athirah tiba-tiba merasa putus asa dan kehilangan semangat hidup.

Hal itulah yang disaksikan oleh putra sulung Athirah, Jusuf Kalla. Jusuf muda merasa terpukul menerima kenyataan sang ayah yang selama ini dikagumi ternyata memilih berpoligami. Hal yang semakin menambah pedih, ayahnya sudah tidak tinggal lagi bersama Athirah, namun memilih tinggal bersama istri barunya.

Ketabahan dan ketahanan mental Athirah mendapat ujian yang tidak ringan. Perasaan tertekan, dan cemburu tentu memenuhi jiwa Athirah. Gejolak batin memiliki suami beristri lebih dari satu terus terjadi setiap hari. Beruntung ia memiliki putra sulung yang cerdas dan bertanggung jawab. Putra sulung itulah yang kelak akan menghadirkan banyak kebahagiaan bagi Athirah dan putra-putrinya.

Sebenarnya, novel Athirah ini bukan hanya bercerita tentang Athirah, namun juga mengisahkan tentang sosok putra tercinta, Jusuf Kalla. Kita diajak berkelana ke masa lalu saat Pak Kalla masih balita hingga meninggalnya ibunda tercinta. Kita akan mendapat banyak informasi tentang perjalanan hidup dan bisnis Pak Kalla sejak beliau lulus kuliah, bahkan sebelumnya.

Akan tetapi, kesalahan ketik masih saja terjadi. Begitupun pengaturan paragraf yang agak kurang rapi.

Secara umum, "Athirah" sangat layak dibaca generasi muda. Ada banyak pesan moral yang tersaji dalam novel ini. Mulai dari ketakwaan kepada Tuhan, disiplin, pantang menyerah dan tabah menerima cobaan. Novel ini adalah juga novel motivasi.


Arif Rahmawan, tenaga perpustakaan SMA N 1 Purwodadi

Resensi Buku Ani Yudhoyono - Kepak Sayap Putri Prajurit

Kisah Putri Seorang Tentara




Judul Buku: Ani Yudhoyono - Kepak Sayap Putri Prajurit
Pengarang :  Alberthiene Endah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2010
Tebal : 551 halaman


Albertheine Endah merupakan sosok penulis biografi tokoh-tokoh penting negeri ini. Ia pernah menulis biografi Krisdayanti (2003), Chrisye (2007), Probosutedjo (2010), dan beberapa tokoh lainnya. Buku tentang Ibu Kristiani Herawati sendiri diterbitkan pada tahun 2010. Dengan begitu banyaknya karya biografi tokoh besar yang telah ditulisnya, Albertheine Endah tentu saja memiliki ketajaman dalam memilih dan memilah hal-hal unik dan terbaik dari tokoh untuk ditampilkan dalam buku yang ditulisnya. Hal itulah yang sepertinya juga terlihat dalam buku Ani Yudhoyono - Kepak Sayap Putri Prajurit.

Ani Yudhoyono - Kepak Sayap Putri Prajurit merupakan buku yang sangat unik. Buku tersebut bercerita tentang sosok seorang perempuan sipil bukan militer, akan tetapi sebagian besar isinya justru bercerita tentang dunia militer dan tentu saja tentang sosok lelaki. Siapakah lelaki-lelaki itu, tentu saja anda bisa menebak yaitu Sarwo Edie Wibowo dan Susilo Bambang Yudhoyono. Membaca buku ini, selain membuat kita mengenal Ibu Ani Yudhoyono, sekaligus akan membawa kita lebih mengenal lebih jauh siapakah kedua tentara itu.

Dalam pengamatan saya, Ibu Ani adalah sosok putri yang sangat membanggakan Papi-nya dan sosok istri yang sangat bangga memiliki seorang suami seperti Bapak SBY. Sang papi, Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo digambarkan sebagai sosok yang dandy, keren dan rapi. Papi juga sosok tentara yang memiliki nasionalisme dan kebanggaan sebagai prajurit yang tidak perlu diragukan. Sementara sosok SBY, sang suami digambarkan sebagai sosok pria yang cerdas, rajin membaca buku, pandai bernyanyi, dan sangat bertanggung jawab.

Pada bagian awal, Ibu Ani bercerita tentang bagaimana beliau menjalani masa kecil di berbagai tempat di negeri ini. Tuntutan tugas dari sang Papi, membuat beliau mau tidak mau harus cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ibu Ani begitu bahagia bisa mendapat bimbingan dan asuhan dari Papi dan ibu yang membiarkannya bermain-main akrab dengan alam sekitar.

Cerita pun bergulir dimulai sejak masa kecil bersama Papi dan Ibu hingga menjalani bahtera bersama SBY.

Perihal namaku, ada kisahnya tersendiri. Saat aku lahir, Papi sedang ditugaskan di Batalyon Kresna di Yogyakarta. Ini sebuah kebetulan, karena Papi jug sangat mengagumi tokoh pewayangan yang berkarakter baik, Kresna. Begitu aku lahir, Papi langsung mendapat ilham untuk menyematkan "Kresna" dalam namaku. Tentu saja tidak mungkin aku diberi nama Kresna, karena identik dengan laki-laki. Akhirnya Papi memberiku nama Kristiani. Sedangkan Herrawati dipilih Papi dari penggalan kisah yang pernah diceritakan ayahnya. (halaman 39)

Banyak yang tidak mengetahui bahwa Ibu Ani terlahir secara prematur. Beliau harus ditempatkan dalam inkubator rumah sakit. Akan tetapi dengan perawatan yang hati-hati, Ibu Ani tumbuh dengan sehat.

Masa remaja dilalui dengan berbagai peristiwa. Sempat kuliah di kedokteran, hingga akhirnya terpaksa berhenti kuliah lalu menjadi istri dari lulusan AKABRI terbaik tahun 1973. Semua itu diceritakan dengan cukup terperinci.

Setelah menikah, Ibu Ani hidup bersama sang perwira muda. Kemudian memiliki dua putra. Putra pertama meneruskan karir dalam bidang militer. Perjalanan selama mendampingi Bapak SBY juga menjadi momen yang mendebarkan sekaligus membanggakan beliau.

Buku setebal 551 halaman ini merupakan buku biografi yang enak untuk dibaca. Saya jarang menemukan kesalahan penulisan, atau kesalahan penulisan tanda baca dalam buku ini. Bab demi bab mengalir dengan cukup lancar. Gambar pendukung juga sangat membantu pembaca dalam memahami kejadian demi kejadian. Albertheine Endah berhasil menampilkan sosok Ibu Ani yang pada dasarnya agak aktif pada masa kecilnya hingga akhirnya menjadi sosok ibu negara yang anggun yang selalu mendampingi presiden.

Kekurangan dari buku ini sepertinya sangat sedikit. Apabila ada pembaca yang merasa bahwa buku ini terlalu sempurna menampilkan sosok Ibu Ani, mereka harus maklum bahwa buku ini adalah biografi. Atau bisa jadi memang seperti itulah sosok Ibu Ani.


Pentingnya Kecakapan Literasi Menghadapi Revolusi Industri 4.0



Heraclitus, seorang filsuf Yunani yang hidup 26 abad yang lalu, mengatakan bahwa tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri (Nothing endures but change). Begitupun dalam pola hidup manusia. Dari masa ke masa, perlahan tapi pasti, cepat atau lambat bergerak dan berubah.

Tiga puluh tahun yang lalu, kita atau  orangtua kita, mungkin tidak pernah menyangka bahwa kelak akan bisa melakukan komunikasi jarak jauh tanpa menggunakan kabel. Hingga akhirnya, ditemukanlah telepon genggam yang memungkinkan kita berdialog dengan seseorang di pulau lain.

Lalu, telepon genggam mulai berubah, berevolusi menjadi perangkat elektronik yang lebih cerdas, ia lantas menjadi telepon pintar yang bukan hanya mampu membuat orang berkomunikasi melalui suara, ia bahkan bisa membuat kita mampu berkomunikasi dengan melihat lawan bicara. Dalam perkembangannya, telepon pintar bukan lagi menjadi media komunikasi, ia juga menjadi media untuk melakukan berbagai kegiatan misalnya mencari informasi, menghitung, membayar tagihan, transportasi dan lain sebagainya.

Apakah evolusi telepon pintar hanya akan berhenti sebatas itu? Saya percaya tidak. Telepon pintar dan juga teknologi akan senantiasa berubah.

Kecakapan Literasi

Literasi bukan slogan atau gerakan tanpa dasar yang jelas. Gerakan ini hadir untuk merespon tuntutan zaman yang semakin bergerak dinamis. Negara-negara di dunia sudah bersiap menyambut kehadiran Revolusi Industri 4.0 dengan berbagai langkah. Termasuk negara Indonesia. Melalui Gerakan Literasi, negara ini bersiap untuk menyongsong Revolusi 4.0, agar tidak ketinggalan oleh negara lain.

Revolusi Industri 4.0 merupakan revolusi industri jilid 4, di mana teknologi dan internet menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Teknologi akan mengubah tradisi, budaya dan kebiasaan kita sehari-hari. Akan lahir kecerdasan-kecerdasan buatan yang kelak mampu mengggantikan tugas manusia.

Untuk itulah, sebagai generasi muda, sebagai pelajar, sekaligus sebagai millenial, tingkatkan kecakapan literasi kalian dengan sebaik-baiknya baik itu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital dan literasi budaya dan kewargaan.

Penguasaan literasi menjadi sangat penting agar kalian tidak gagap ketika revolusi industri 4.0 benar-benar tiba di hadapan kalian. Kalianlah yang nanti menjadi pelaku perubahan. Siapkah kalian menyambut Revolusi Industri 4.0 ?


Resensi Buku Bung Tomo - Dari 10 Nopember 1945 ke Orde Baru



Judul Buku : Bung Tomo Dari 10 Nopember 1945 ke Orde Baru (Kumpulan Karangan)
Penyunting: Frans M. Parera
Penerbit : Gramedia Jakarta 1982
Tebal Buku : 447 halaman

Melalui gambarnya yang begitu heroik, Bung Tomo menjadi sosok yang paling dikenang orang saat bangsa ini memperingati Hari Pahlawan, setiap 10 November. Di depan mikrofon, Bung Tomo nampak berdiri tegak begitu bersemangat mengangkat telunjuk.

Buku ini, bukan hanya menjelaskan siapakah Bung Tomo, pidatonya, keluarganya, pekerjaannya, dan kisah perjuangannya, melainkan juga menggambarkan situasi kota Surabaya pada saat kemerdekaan 17 Agustus, peristiwa Yamato 19 September, terbunuhnya Mallaby , 10 November 1945 hingga beberapa tahun setelahnya.

Soetomo memang seorang aktivis, sejak zaman penjajahan, ia mengikuti berbagai organisasi seperti Kepanduan Bangsa Indonesia, lalu mendirikan Parindra dan juga pernah bekerja sebagai wartawan di kantor berita Domei, milik Jepang. Karenanya ia mendapat banyak informasi tentang kemerdekaan Republik Indonesia. Lalu disebarkanlah informasi itu ke seluruh penjuru Surabaya baik melalui lisan maupun media resmi saat itu.

Pada tanggal 12 Oktober 1945 bersama dengan tokoh-tokoh seperti Sumarno, Asmanu, Abdullah, Amiadji, Sudjaro , Suluh Hangsono dan dibantu oleh pemimpin-pemimpin sopir becak, orang-orang tua yang berilmu gaib dan lain-lain, Bung Tomo mendirikan organisasi Pemberontakan Republik Indonesia (BPRI).

Badan ini merupakan badan ekstrem, yang bersama-sama rakyat jelata akan menimbulkan pemberontakan bila kedaulatan Republik Indonesia disinggung atau bila kehormatan para pemimpin yang sedang menjalankan diplomasi terancam (halaman 49).

Dengan pembagian tugas yang jelas, PRI mulai bergerak! Melalui radio pemberontakan, Bung Tomo mulai berpidato, membakar semangat para pejuang. Selain itu, Bung Tomo juga bertugas mendekati dan menyusun oraganisasi pertempuran yang terdiri atau dipelopori oleh kusir-kusir dokar, sopir-sopir becak dan pegawai-pegawai pelbagai jawatan.

Di tengah-tengah perjuangan, terjadi peristiwa yang cukup mengagetkan, Bung Tomo ditangkap oleh anggota Pemuda Republik Indonesia, sebuah organisasi perjuangan para pemuda di bawah pimpinan Soemarsono. Ia dibawa menemui Roestam Zain. Ternyata, penangkapan itu disebabkan salah paham para anggota dalam menerjemahkan perintah pimpinannya. Para pemuda itu mendapat perintah dari Dr. Moestopo untuk "melindungi" Bung Tomo. Selama ini, istilah melindungi digunakan oleh para pemuda untuk menangkap orang.


Ada tiga orang yang sering dipanggil bung yaitu Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Tomo. Hubungan "Bung Kecil" dengan Bung Karno dan Bung Hatta memang mengalami pasang surut, terutama dengan Bung Karno. Meskipun pernah diangkat sebagai Jenderal Mayor oleh Bung Karno, ia tak segan menggugat kabinet Kerja yang dipimpin Bung Karno. Salah satunya karena pembubaran DPR. Gugatan itu diucapkan di muka sidang pengadilan Negeri Istimewa Jakarta, 24 Agustus 1960.

Buku ini cukup lengkap menguraikan sosok Bung Tomo baik pada era penjajahan, Orde lama maupun orde baru. Secara umum, Bung Tomo merupakan sosok yang egaliter, suka berterus terang, tegas dan apa adanya, yang mungkin menjadi ciri khas arek-arek suroboyo. Ia begitu luwes bergaul dengan masyarakat awam seperti tukang becak, kusir dan lain-lain. Pada masa orde lama Ia juga tidak canggung bergaul dengan tokoh bangsa seperti Bung Karno, Amir Syarifudin, Jenderal Oerip Sumoharjo,  Jenderal Sudirman dan lain-lain.


Kiprah gemilang selama masa perjuangan  ternyata tak berlanjut hingga damai. Ia turut mendirikan sebuah partai, namun kalah. Kisah Bung Kecil berakhir di Arab Saudi pada 7 Oktober 1981.





Mengapa Kita Malas Membaca Buku ?



Di negara Amerika Serikat, rata-rata warganya yang berusia 18 tahun biasa menghabiskan membaca 11-20 buku dalam setahun. 

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Puan Maharani pernah mengatakan,"Rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku."

"Itu berdasarkan hasil penelitian perpustakaan nasional tahun 2017," kata Puan.


The World’s Most Literate Nations (WMLN) telah merilis hasil penelitian tentang minat baca negara-negara di dunia. Negara Indonesia berhasil meraih peringkat 60. Sebuah prestasi yang cukup membuat kita tersipu malu.

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia membuat kita bertanya-tanya, apa sebenarnya yang menyebabkan minat baca di negara ini begitu rendah? 

Mengapa kita malas membaca buku ?

1. Kita merasa belum membutuhkan buku
Hal ini benar adanya, sudah sejak bertahun-tahun yang lalu, masyarakat Indonesia hidup tenteram dan damai di tanah air yang gemah ripah loh jinawi. Saat itu tidak ada buku. Masyarakat tidak butuh buku untuk hidup sehari-hari. Lalu, muncullah pendidikan, ditandai dengan berdirinya gedung-gedung sekolah. Saat itulah anak-anak mulai mengenal huruf, dan mengenal angka. Buku hanya dibaca oleh kelompok pelajar. Sementara itu, kelompok masyarakat lain menganggap buku tidak dibutuhkan, sebab kehidupan sehari-hari tetap berjalan tanpa adanya buku.

2. Lemahnya tradisi membaca buku di keluarga dan masyarakat
Tradisi membaca buku tidak timbul begitu saja di kalangan masyarakat. Para guru boleh saja menyuruh para muridnya membaca buku, namun ketika anak-anak penerus generasi bangsa tersebut tiba di rumah, siapa yang akan mengawasi mereka? Mungkin orangtua. Akan tetapi jika orangtua hanya mengawasi tanpa memberi teladan membaca buku, jangan harap anak-anak tersebut bakal rajin membaca buku.

3. Harga buku yang Mahal
Harga buku memang mahal sebab ada banyak pihak yang terlibat dalam proses penerbitan buku. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah maupun siapa saja yang terlibat dalam proses penerbitan buku untuk menghasilkan buku yang terjangkau oleh tangan masyarakat. Masyarakat saat ini menunggu hadirnya toko buku atau di berbagai pelosok daerah dengan harga yang terjangkau.

4. Kita menganggap bahwa membaca buku menghabiskan waktu.
Anggapan tersebu tidak sepenuhnya salah. Membaca buku memang menyita banyak waktu dalam kehidupan kita. Akan tetapi kita tidak boleh maklum dengan alasan tersebut, terutama bagi kalangan pelajar. Justru pelajar harus menghabiskan waktunya dengan membaca buku, setiap hari, setiap saat karena memang itulah tugas mereka.

5. Kurangnya Peran Pemerintah

Pemerintah merupakan pihak yang memiliki kekuatan untuk mengubah segala sesuatu di negara ini, termasuk mengubah dan menaikkan minat baca masyarat. Pemerintah bisa menerbitkan peraturan yang mendukung dan memaksa masyarakat untuk membaca buku.

6. Terbatasnya jumlah buku
Bukan hanya jumlah buku yang terbatas, melainkan juga jumlah jenis buku. Hal itu menyebabkan kita memiliki pilihan yang terbatas terhadap buku.

sumber :

https://nasional.kompas.com/read/2018/03/26/14432641/per-hari-rata-rata-orang-indonesia-hanya-baca-buku-kurang-dari-sejam

http://pustakawanjogja.blogspot.com/2016/03/peringkat-negara-literasi-di-dunia-no-1.html


Mengenal apa itu Literasi Numerasi

Gerakan literasi numerasi merupakan salah satu gerakan literasi nasional yang wajib dikuasai para pelajar dan  masyarakat luas. Secara sederhana, numerasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari (misalnya, di rumah, pekerjaan, dan partisipasi dalam kehidupan masyarakat dan sebagai warga negara) dan kemampuan untuk menginterpretasi informasi kuantitatif yang terdapat di sekeliling kita. Kemampuan ini ditunjukkan dengan kenyamanan terhadap bilangan dan cakap menggunakan keterampilan matematika secara praktis untuk memenuhi tuntutan kehidupan. Kemampuan ini juga merujuk pada apresiasi dan pemahaman informasi yang dinyatakan secara matematis, misalnya grafik, bagan, dan tabel.




Sekilas gerakan ini membuat kita berfikir bahwa gerakan literasi numerasi sama dengan pengetahuan matematika. Pada kenyataannya tidaklah seperti itu, numerasi berbeda dengan kompetensi matematika. Memang benar, keduanya berlandaskan pada pengetahuan dan keterampilan yang sama, tetapi perbedaannya terletak pada pemberdayaan pengetahuan dan keterampilan tersebut. Pengetahuan matematika saja tidak membuat seseorang memiliki kemampuan numerasi. Numerasi mencakup keterampilan mengaplikasikan konsep dan kaidah matematika dalam situasi real sehari-hari, saat permasalahannya sering kali tidak terstruktur.

Sebagai contoh, seorang siswa belajar bagaimana membagi bilangan bulat dengan bilangan bulat lainnya. Ketika bilangan yang pertama tidak habis dibagi, maka akan ada sisa. Biasanya siswa diajarkan untuk menuliskan hasil bagi dengan sisa, lalu mereka juga belajar menyatakan hasil bagi dalam bentuk desimal. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, hasil bagi yang presisi (dengan desimal) sering kali tidak diperlukan sehingga sering kali dilakukan pembulatan. Secara matematis,
kaidah pembulatan ke bawah dilakukan jika nilai desimalnya lebih kecil daripada 5, pembulatan ke atas jika nilai desimalnya lebih besar daripada 5, dan pembulatan ke atas atau ke bawah bisa dilakukan jika nilai desimalnya 5. Namun, dalam konteks real, kaidah itu tidaklah selalu dapat
diterapkan. Contohnya, jika 40 orang yang akan bertamasya diangkut dengan minibus yang memuat 12 orang, secara matematis minibus yang dibutuhkan untuk memuat semua orang itu adalah 3,333333. Jumlah itu tentu tidak masuk akal sehingga dibulatkan ke bawah menjadi 3 minibus.

Akan tetapi, jika sebuah tempat duduk hanya boleh diduduki oleh satu orang saja, artinya ada 4 orang tidak mendapatkan tempat duduk. Oleh karena itu, jumlah minibus yang seharusnya dipesan adalah 4 buah. Perlu dicermati bahwa numerasi membutuhkan pengetahuan matematika yang dipelajari dalam kurikulum. Akan tetapi, pembelajaran matematika itu sendiri belum tentu menumbuhkan kemampuan numerasi.

Literasi numerasi bisa segera dilaksanakan dalam berbagai lingkup antara lain keluarga, sekolah, dan masyarakat. Bagaimana pelaksanaannya, secara lengkap bisa dibaca pada materi pendukung literasi numerasi.

Resensi Buku Diamond In The Rough karya Nathania Christy

Kisah Inspiratif Penuh Motivasi Peraih Beasiswa ke Singapura


Judul Buku : Diamond In The Rough
Pengarang : Nathania Christy
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2014
Tebal Buku : 201 halaman

Bagi para pelajar, bisa meraih beasiswa merupakan sebuah impian mulia, apalagi jika bisa meraih beasiswa ke luar negeri. Nathania Christy contohnya. Nia (nama panggilan Nathania Christy) berhasil meraih beasiswa ke negara Singapura. Beasiswa tersebut bernama School-Based Scholarship. 

Dalam buku berwarna pink ini, Nia memulai bercerita tentang bagaimana mimpi menjadi motivasi besar penentu keberhasilannya dalam meraih beasiswa. Secara ringkas, ia menuliskan siklus mimpinya.

Bermimpi -> berjuang untuk menggapai mimpi itu-> mendapatkan mimpi -> menjalaninya -> mulai bermimpi hal-hal baru yang lebih besar lagi.

Nia juga menyukai mimpi yang step by step. Pada awalnya Nia bercita-cita untuk bisa mendapatkan beasiswa di Singapura, lalu ia bercita-cita bisa sekolah Victoria JC. Di luar dugaan, nilainya mengalahkan mimpinya, sehingga ia bisa masuk ke Raffles JC yang peringkatnya lebih tinggi.

Nia memulai pendidikan di Singapura dengan bersekolah di Bukit Panjang Goverment High School setelah itu melanjutkan pendidikan di Raffles Junior College, sebuah sekolah bergengsi yang tidak sembarang orang bisa masuk ke sekolah tersebut, bahkan warga negara Singapura sendiri.

Di singapura, bersama dengan peraih beasiswa dari negara lain, Nia mendapat julukan scholars. Perlu diketahui bahwa Nia memperoleh beasiswa tersebut  dari Departemen Pendidikan Singapura. Pemerintah Singapura mengeluarkan uang sekitar Rp280 miliar untuk warga negara asing agar bisa meraih pendidikan gratis di Singapura.  Kebijakan tersebut memang cukup aneh, namun tujuannya adalah untuk meningkatkan daya saing warga negara Singapura.

Nia bercerita tentang pendidikan di Singapura yang sangat ketat dan disiplin. Seseorang yang sudah terkenal pintar dan selalu mendapat nilai A, bisa saja tiba-tiba mendapat nilai E karena ia tidak belajar. Makanya, pelajar di Singapura selalu belajar setiap hari. Mereka selalu membaca buku di manapun berada.

Di Singapura, tidak hanya dalam bidang pendidikan, persaingan dalam berbagai bidang sangatlah ketat hal tersebut tidak terlepas dari budaya Singapura yang bernama Kiasu yang berarti "takut kalah".

Tak heran, di tempat-tempat umum seperti  Starbuck, banyak meja yang penuh dengan kertas, kepala tertuntuk sambil memegang pensil dan kalkulator besar. Mereka adalah anak Junior College yang sedang belajar.

Kelemahan Buku Ini

Buku ini sebenarnya merupakan buku biografi yang sarat dengan informasi dan motivasi. Informasi tentang pendidikan di Singapura dengan segala kerumitannya. Motivasi bagi pelajar dan masyarakat Indonesia secara umum bahwa negara sekecil Singapura ternyata sangat disiplin dalam berbagai bidang. Sesuatu yang sepatutnya bisa ditiru oleh rakyat Indonesia.

Akan tetapi, buku ini memiliki kekurangan dari segi penyajian. Pertama, bab demi bab rasanya kurang runtut. Kedua, terlalu banyak kata-kata dalam bahasa inggris yang diselipkan.

Jika buku sebagus ini disajikan dengan lebih baik lagi, sepertinya bisa menjadi buku best seller. Terlepas dari itu, saya menyarankan buku ini wajib dibaca para pelajar mulai dari SD hingga perguruan tinggi, baik yang menginginkan beasiswa maupun tidak.