Resensi Buku Ani Yudhoyono - Kepak Sayap Putri Prajurit

Kisah Putri Seorang Tentara




Judul Buku: Ani Yudhoyono - Kepak Sayap Putri Prajurit
Pengarang :  Alberthiene Endah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2010
Tebal : 551 halaman


Albertheine Endah merupakan sosok penulis biografi tokoh-tokoh penting negeri ini. Ia pernah menulis biografi Krisdayanti (2003), Chrisye (2007), Probosutedjo (2010), dan beberapa tokoh lainnya. Buku tentang Ibu Kristiani Herawati sendiri diterbitkan pada tahun 2010. Dengan begitu banyaknya karya biografi tokoh besar yang telah ditulisnya, Albertheine Endah tentu saja memiliki ketajaman dalam memilih dan memilah hal-hal unik dan terbaik dari tokoh untuk ditampilkan dalam buku yang ditulisnya. Hal itulah yang sepertinya juga terlihat dalam buku Ani Yudhoyono - Kepak Sayap Putri Prajurit.

Ani Yudhoyono - Kepak Sayap Putri Prajurit merupakan buku yang sangat unik. Buku tersebut bercerita tentang sosok seorang perempuan sipil bukan militer, akan tetapi sebagian besar isinya justru bercerita tentang dunia militer dan tentu saja tentang sosok lelaki. Siapakah lelaki-lelaki itu, tentu saja anda bisa menebak yaitu Sarwo Edie Wibowo dan Susilo Bambang Yudhoyono. Membaca buku ini, selain membuat kita mengenal Ibu Ani Yudhoyono, sekaligus akan membawa kita lebih mengenal lebih jauh siapakah kedua tentara itu.

Dalam pengamatan saya, Ibu Ani adalah sosok putri yang sangat membanggakan Papi-nya dan sosok istri yang sangat bangga memiliki seorang suami seperti Bapak SBY. Sang papi, Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo digambarkan sebagai sosok yang dandy, keren dan rapi. Papi juga sosok tentara yang memiliki nasionalisme dan kebanggaan sebagai prajurit yang tidak perlu diragukan. Sementara sosok SBY, sang suami digambarkan sebagai sosok pria yang cerdas, rajin membaca buku, pandai bernyanyi, dan sangat bertanggung jawab.

Pada bagian awal, Ibu Ani bercerita tentang bagaimana beliau menjalani masa kecil di berbagai tempat di negeri ini. Tuntutan tugas dari sang Papi, membuat beliau mau tidak mau harus cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ibu Ani begitu bahagia bisa mendapat bimbingan dan asuhan dari Papi dan ibu yang membiarkannya bermain-main akrab dengan alam sekitar.

Cerita pun bergulir dimulai sejak masa kecil bersama Papi dan Ibu hingga menjalani bahtera bersama SBY.

Perihal namaku, ada kisahnya tersendiri. Saat aku lahir, Papi sedang ditugaskan di Batalyon Kresna di Yogyakarta. Ini sebuah kebetulan, karena Papi jug sangat mengagumi tokoh pewayangan yang berkarakter baik, Kresna. Begitu aku lahir, Papi langsung mendapat ilham untuk menyematkan "Kresna" dalam namaku. Tentu saja tidak mungkin aku diberi nama Kresna, karena identik dengan laki-laki. Akhirnya Papi memberiku nama Kristiani. Sedangkan Herrawati dipilih Papi dari penggalan kisah yang pernah diceritakan ayahnya. (halaman 39)

Banyak yang tidak mengetahui bahwa Ibu Ani terlahir secara prematur. Beliau harus ditempatkan dalam inkubator rumah sakit. Akan tetapi dengan perawatan yang hati-hati, Ibu Ani tumbuh dengan sehat.

Masa remaja dilalui dengan berbagai peristiwa. Sempat kuliah di kedokteran, hingga akhirnya terpaksa berhenti kuliah lalu menjadi istri dari lulusan AKABRI terbaik tahun 1973. Semua itu diceritakan dengan cukup terperinci.

Setelah menikah, Ibu Ani hidup bersama sang perwira muda. Kemudian memiliki dua putra. Putra pertama meneruskan karir dalam bidang militer. Perjalanan selama mendampingi Bapak SBY juga menjadi momen yang mendebarkan sekaligus membanggakan beliau.

Buku setebal 551 halaman ini merupakan buku biografi yang enak untuk dibaca. Saya jarang menemukan kesalahan penulisan, atau kesalahan penulisan tanda baca dalam buku ini. Bab demi bab mengalir dengan cukup lancar. Gambar pendukung juga sangat membantu pembaca dalam memahami kejadian demi kejadian. Albertheine Endah berhasil menampilkan sosok Ibu Ani yang pada dasarnya agak aktif pada masa kecilnya hingga akhirnya menjadi sosok ibu negara yang anggun yang selalu mendampingi presiden.

Kekurangan dari buku ini sepertinya sangat sedikit. Apabila ada pembaca yang merasa bahwa buku ini terlalu sempurna menampilkan sosok Ibu Ani, mereka harus maklum bahwa buku ini adalah biografi. Atau bisa jadi memang seperti itulah sosok Ibu Ani.


0 Comments

Post a Comment